Gen Z
Part 1
Pelan-Pelan yang Penting Waras
Ditulis oleh Anonim pada 06 Sep 2026, 11:35
👁️ 7 Pembaca
Perspektif ID Feature
Pelan-Pelan yang Penting Waras
Sumber Foto: Dokumentasi Perspektif ID (Anonim)
📚 Daftar Bagian (Part) Cerita
2 Bagian
Langit sore di kawasan BSD, Tangerang, tampak jingga kemerahan ketika Saka (24) mematikan laptop kantornya. Sebagai creative staff di sebuah agensi digital lokal, hidupnya adalah siklus tanpa akhir antara kopi saset, deadline klien yang mendadak revisi, dan grup WhatsApp kerjaan yang notifikasinya tidak pernah berhenti berdering bahkan di hari Sabtu.
Di kubikel sebelah, Rara (23) baru saja mendesah panjang sambil menatap layar ponselnya.
"Kenapa lagi, Ra?" tanya Saka tanpa menoleh, sibuk merapikan kabel charger ke dalam tas ranselnya.
"Lagi nengok LinkedIn, Sak. Temen kuliah gue ada yang baru, update status keterima kerja di multinational company dengan gelar Management Trainee. Gajinya mungkin udah dua kali lipat UMR Tangerang. Sementara gue? Masih di sini, pusing mikirin konten TikTok klien yang engagement-nya seret," keluh Rara, jempolnya terus melakukan scrolling tanpa henti (doomscrolling).
Saka menghela napas. Ia sangat paham rasanya. Generasi mereka, Gen Z, hidup di era di mana validasi diukur dari metrik digital dan standar kesuksesan terlihat begitu instan sekaligus menakutkan di media sosial. Semua orang tampak berlari kencang, sementara mereka merasa baru saja bangun tidur dan langsung disuruh ikut lari maraton.
Saka mengajak Rara turun ke kedai kopi di lantai dasar gedung untuk sekadar melepas penat sebelum menghadapi kemacetan KRL jalur Serpong. Di meja kayu minimalis itu, secangkir iced americano mendingin di hadapan mereka.
"Lu inget nggak waktu kita idealis banget pas lulus kuliah?" tanya Saka memulai obrolan. "Gue tadinya mikir umur 24 tahun minimal udah punya apartemen sendiri, karier stabil, dan bisa work from anywhere di Bali kayak selebgram."
Rara tertawa pelan, getir. "Realitanya? Bayar cicilan paylater buat beli ring light, nabung sebulan cuma cukup buat beli es kopi susu tiga kali, dan tiap malam overthinking mikirin apakah karier gue bakal tergantikan sama AI."
Suasana sejenak senyap. Lalu, Saka menatap Rara lekat-lekat.
"Ra, lu pernah denger istilah quarter-life crisis kan? Mungkin kita terlalu sibuk ngejar standar sukses orang lain sampai lupa kalau hidup ini bukan kompetisi lari 100 meter. Bokap gue pernah bilang, 'Jalan orang beda-beda, yang penting lu nggak nyerah di tengah jalan'."
Rara terdiam, meresapi kalimat itu. Di luar jendela kaca kafe, lampu-lampu kendaraan mulai menyala, menerangi jalanan kota yang sibuk. Ponsel Rara kembali bergetar—notifikasi pesan dari grup kantor masuk. Namun, kali ini ia tidak langsung membukanya. Ia meletakkan ponsel itu telungkup di atas meja, lalu mengambil sedotan minumannya.
"Lo bener juga, Sak," ujar Rara sambil tersenyum tipis, matanya menyiratkan kelegaan kecil. "Pelan-pelan yang penting waras, ya?"
"Nah, itu baru Gen Z sejati," balas Saka sambil mendentingkan gelas plastiknya dengan gelas Rara.
Malam itu, di tengah riuhnya kota, mereka sadar bahwa tidak apa-apa untuk merasa lelah, tidak apa-apa untuk tidak sempurna, dan yang paling penting: hidup tidak harus diselesaikan dalam waktu semalam.
Suka dengan artikel/cerita ini? Dukung penulisnya!
🤍
Suka
0
💬 Diskusi & Komentar (0)
Silakan
Masuk / Login terlebih dahulu untuk ikut menulis komentar.
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!